SINOPSIS
Indahnya Sebuah Perbedaan
Cerita/Skenario
Dwi
Priyo Hariyanto
Kepindahan Agustinus di desa sumbersari rupanya memicu persoalan dengan
sebagian warga yang tinggal disitu. Agustinus yang memeluk agama Kristen
rupanya tidak disukai oleh mang Jaja yang dikenal penganut Islam garis keras
dan punya komunitas, apalagi desa sumbersari selama ini dikenal sebagai desa
yang penduduknya beragama Islam. Mang Jaja sontak memusuhi Agustinus dan
keluarganya, ia bahkan berniat mengusir Agustinus dari kampung tsb namun niat
mang Jaja selalu dihalang-halangi oleh Abah Sueb yang dikenal sebagai sesepuh
desa dan seorang ulama. Abah Sueb berulangkali menginatkan mang Jaja soal
toleransi antar umat beragama, namun mang Jaja dengan kelompoknya punya
penafsiran lain. Masalah itu yang tidak pernah mencapai titik temu.
Agustinus sendiri bukannya tidak tahu sikap permusuhan yang diperlihatkan
mang jaja dan kelompoknya, namun Agustinus selalu berpikir positif pada mang
Jaja. Agustinus juga berusaha membaur dengan warga lainnya tanpa memandang
perbedaan agama, tidak jarang Agustinus ikut membantu kerja bakti membetulkan
mushola kecil milik abah Sueb.
Ketika Agustinus kedatangan tamu-tamunya sesama pemeluk agama Nasrani dan
merayakan Natal dirumahnya dengan mengadakan kebaktian kecil, tiba-tiba rumah
Agustinus di demo oleh mang Jaja dan kelompoknya. Mang Jaja dan kelompok
berteriak-teriak mengusir Agustinus dan tamu-tamunya. Nyaris kejadian itu
berubah dari aksi anarkis, beruntung warga desa lainnya dan abah Sueb datang
menengahi dan berusaha melindungi Agustinus dan tamu-tamunya. Melihat jumlah warga
desa yang melindungi Agustinus lebih banyak dari anggota kelompoknya, mang Jaja
jadi berpikir kalo tindakannya selama ini rupanya tidak disukai oleh warga desa
dan terbukti warga desa justru berusaha melindungi Agustinus.
Setelah melalui pertemuan di balai desa dengan di hadiri oleh aparat desa
dan petugas penyuluh dari Dirjen HAM, mang Jaja akhirnya baru menyadari arti
pentingnya sebuah toleransi antar umat beragama karena hal itulah hakiki semua
ajaran agama.
Perbedaan itu adalah sebuah Keindahan, dan mang Jaja rupanya baru bisa
melihat keindahan itu. ****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar