Film
penyuluhan ditjen ham
SISTEM PERADILAN PIDANA
TERPADU
Indahnya
Sebuah Perbedaan
Cerita/Skenario
Dwi Priyo
Hariyanto
-----------------------------------------------------------
1.
EXT/int. RUMAH agustinus - senja
Suasana pedesaan.
RePORTER TEVE (O.S.)
...aksi anarkis kembali dilakukan oleh sekelompok
ormas Islam dengan membubarkan kegiataan keagamaan disebuah daerah...
INTERCUT
Agustinus terlihat sedang melihat berita di televisi
yang menayangkan aksi anarkis kasus sara disalah satu daerah di wilayah
Indonesia dirumahnya.
Sekelompok ormas islam nampak berteriak-teriak
disebuah rumah yang dijadikan tempat peribadatan orang nasrani, bahkan aksi
lempar batu dilakukan hingga kaca rumah pada pecah.
Meliana, istri Agustinus sedang membuatkan kopi buat
suaminya dimeja makan.
REPORTER TEVE
(CONT'D)
Warga setempat rupanya tidak bisa menerima aksi tsb,
karena terbukti aksi tsb telah merugikan mereka...
Warga sekitar rupanya tidak terima, mereka berusaha
membubarkan aksi tsb hingga terjadi perkelahian.
Agustinus yang dari tadi diam sontak berkomentar
sembari menggeleng.
AGUSTINUS
Ini yang bikin Indonesia nggak bisa maju!
Meliana menimpali sembari mengidangkan kopi dimeja.
MELIANA
Sudah tahu berita nggak mutu begitu dilihat juga...
INTERCUT
2.
EXT. jalanan pedesaan - senja
Sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi disalah
satu ruas jalan pedesaan. Pengendara motor dengan rekannya yang dibonceng
nampak mengenakan cadar.
AGUSTINUS (O.S.)
Nggak mutu gimana? Justru kasus-kasus begini ini
yang perlu diperhatikan pemerintah, Mel!
INTERCUT
3.
INT. rUMAH AGUSTINUS - senja
Sambil menonton teve, Agustinus masih berbicara
dengan argumentasinya.
AGUSTINUS
Reformasi sudah bergulir satu dekade, tapi kenapa
tindakan konyol kayak begitu masih terjadi?
MELIANA
Jangan dikira reformasi bisa mengubah segalanya mas
!
Ini soal pemahaman! Kalo sekelompok orang sudah
tidak bisa memahami agama atau keyakinan secara benar, ya begitu itu
akibatnya...!
Tiba-tiba terdengar bunyi kaca pecah.
PYAAAAAR!
Agustinus sama Meliana tersentak kaget dibuatnya.
INTERCUT
4.
EXT. ruMAH AGUSTINUS - senja
Dua orang pengendara motor dengan memakai jubah
putih dan memakai cadar sontak meninggalkan depan rumah Agustinus setelah
melempar baru ke arah kaca depan.
Agustinus sama Meliana keluar rumah dan mendapati
kaca depan rumahnya pecah oleh timpukan batu. Mereka berdua hanya bisa melihat
kepergian pelaku dengan motornya.
Smash judul Film,
Indahnya Sebuah
Perbedaan
Credit Title diikuti cuplikan adegan tertentu dari
para pemainnya.
CUT TO:
5.
EXT. surau abah sueb - senja
Esthablis surau Abah Sueb...
ABAH SUEB (O.S.)
Kita emang harus prihatin terjadinya kasus-kasus
yang mengarah anarkis, main hakim sendiri yang belakangan ini sering terjadi...
apalagi pake simbol-simbol agama segala...
CUT TO:
Abah Sueb nampak berbicara dengan beberapa warga
sambil duduk di serambi surau.
ABAH SUEB (CONT'D)
Tapi menurut abah, abah lebih prihatin lagi sama
pelakunya...
Kang ujang
Maksud abah teh kunaon?
ABAH SUEB
Kalo mereka menyebut diri mereka orang beragama,
masak tindakannya seperti itu? Bukankah agama mengajarkan kebaikan, bukan
permusuhan nyak?
Kang Ucup yang ada disitu jadi membenarkan penyataan
abah Sueb.
Kang ucup
Bener juga bah...tidak seharusnya teh orang beragama
itu melakukan tindakan seperti itu... sama wae tindakannya sama orang bar-bar
atuh...
KANG UJANG
Orang bar-bar saha kang?
KANG UCUP
Itu...orang yang tidak mengenal perikemanusiaan...
KANG UJANG
Ooo...
Abah Sueb tersenyum geli menanggapi obrolan mereka
berdua.
Tiba-tiba terdengar suara memanggil abah Sueb.
Kang asep (O.S.)
(teriak)
Abaah...! Abaaah!
Abah Sueb, kang Ujang sama Ucup sontak menoleh
kearah pintu masuk surau. Kang Asep terlihat berlari kearahnya dengan nafas
terengah-engah.
KANG UCUP
Aya naon atuh Sep?
Kang UJANG
Naon nu kajadian?
KANG ASEP
(gelagapan)
Rumah warga baru itu kang?
Pak Agustinus...
ABAH SUEB
Aya naon sama Pak Agustinus Sep?
KANG ASEP
Rumahnya disatroni orang-orang yang tidak
bertanggung jawab abah...
Rumahnya dilempari batu!
ABAH SUEB
Masya Allah!...
KANG ASEP
Kebetulan teh Pak Agustinus sama istrinya sempat
melihat pelakunya kabur... katanya mereka pakai jubah putih sama pake cadar...
Abah Sueb sama kang Ucup dan kang Ujang sontak
saling pandang. kang ucup sama ujang jadi emosional.
KANG UCUP
Pasti pelakunya kelompoknya mang Jaja! Dari semula
teh, mereka nggak suka ada pemeluk agama lain tinggal dikampung sini...
ABAH SUEB
Nggak baik menuduh orang tanpa bukti, Cup! Sama
halnya fitnah atuh...
KANG UJANG
Bukannya fitnah atuh abah, tapi dari dulu kerjaanya
mang Jaja sama kelompoknya emang begitu...suka memusuhi orang yang tidak
sealiran dengan mereka...!
KANG ucup
Benar kang Ujang...
Bukanya anggotanya teh diajari ngaji yang bener,
tapi malah diajarin musuhin orang, kumaha atuh mang Jaja?
Abah Sueb kembali berusaha mendinginkan suasana
terlebih begitu terdengar suara adzan mahgrib.
ABAH SUEB
Sudah...sudah nanti kita bicarakan lagi, ayo
maghriban dulu..
Sudah adzan tuh...
Ujang, Ucup dan kang Asep mengiyakan.
DISSOLVE TO:
6.
Int/EXT. ruMAH AGUSTINUS - malam
Dengan wajah dihantui kecemasan Meliana memasukkan
pakaian kedalam travel bag. Meliana rupanya bersikeras hendak pulang kerumah orang
tuanya sementara Agustinus berusaha mencegahnya.
MELIANA
(cemas, kesal)
Dari semula aku tidak setuju kita pindah dikampung
sini, tapi mas tetep maksa juga...akhirnya jadi kenyataan kan?
AGUSTINUS
Sabar Mel, tenang...!!
MELIANA
(emosional)
Gimana bisa tenang nanggepi teror kayak begitu mas?
gimana kalo besok atau lusa kita diteror lagi?
Bisa-bisa bayi dalam kandungan ini jadi korbannya
kalo aku keseringan stres gara-gara teror macam itu!
Pokoknya malam ini juga aku mau pulang kerumah ibu!
Agustinus memilih diam menanggapi sikap istrinya yg
nampak emosional sambil memasukkan pakaian kedalam tas.
Tiba-tiba terdengar suara salam dari arah luar.
Warga desa (O.S.)
Punten...!!
Agustinus seketika bergerak keluar kamar begitu
mendengar suara salam tsb.
AGUSTINUS
Iya...iya..sebentar...
Begitu Agustinus keluar kamar Meliana sempat
melampiaskan kekesalannya dengan memekik.
MELIANA
Argh...!!
CUT TO:
Pintu rumah dibuka dari dalam rumah, Agustinus
nampak keluar dan menyambut kedatangan kang Ujang, kang Ucup, Ce' Oda dan Ce'
Euis...dengan mengumbar senyuman.
AGUSTINUS
Mangga...mangga...kang, Ce'...
KaNG UCUP
Maaf pak Agustinus...kedatangan saya sama beberapa
warga sini teh pengen ngasih dukungan buat pak Agustinus...
KANG UJANG
Iya pak Agustinus...pokoknya pak Agustinus jangan
takut sama peneror itu...saya teh juga sebel sama ulah mereka...
Ce' Oda sama Ce' Euis juga memberikan support
serupa.
AGUSTINUS
Terima kasih kang atas perhatiannya... masalahnya,
istri saya...
Ce' oda
Aya naon sama teh Meli, Pak Agustinus?
AGUSTINUS
Istri saya sepertinya ketakutan gara-gara kejadian
sore tadi...
Dia malah berencana malam ini mau pulang kerumah
orang tuanya...
Penjrlasan Agustinus mengejutkan kang Ujang, Ucup
juga Ce' Oda dan Ce' Euis.
INTERCUT
7.
EXT. mushola mang jaja - malam
Mang Jaja rupanya menanggapi dengan emosional
kedatangan Abah Sueb dengan kang Asep. di musholanya...
MANG JAJA
(kesal)
Jadi abah teh nuduh saya yang mendalangi teror
dirumahnya si kafir itu?
ABAH SUEB
Astaqfirullahalazim...tidak baik menyebut Pak
Agustinus seperti itu mang...lagian saya tidak menuduh mang Jaja.
Sementara kang Asep menanggapi dengan gelengan.
MANG JAJA
(ketus, kesal)
Abah, orang yang tidak seiman dan seagama dengan
kita, emang pantas disebut begitu...!!
Abah Sueb menanggapi sikap mang Jaja dengan helaan
nafas berat.
ABAH SUEB
Mang Jaja, tidak semua umat manusia yang dilahirkan
dibumi ini teh... harus mengikuti agama yang kita anut... karena mereka punya
keyakinan sendiri, itu yang harus kita hormati mang!
MANG JAJA
(ketus)
Abah tidak usah ngajari saya mana yang benar dan
mana yang salah!
Yang jelas, saya teh tidak terima kalo dituduh
sebagai orang yang mendalangi aksi teror itu biarpun saya tidak suka orang
kafir itu tinggal dikampung sini!
Abah Sueb sama kang Asep kembali menanggapi dengan
gelengan sembari saling pandang.
CUT TO BACK
8.
INT/ext. RuMAH AGUSTINUS - malam
Ce' Oda dan Ce' Euis berusaha membujuk dan
menenangkan Meliana agar tidak pergi dari kampung situ. Meliana sendiri nampak
bimbang.
CE' ODA
Percaya omongan saya teh... saya sama ibu-ibu
dikampung sini akan berusaha melindungi teh Meli...
Pokoknya kalo ada orang yang meneror teh Meli sama
Pak Agustinus lagi, saya sama warga kampung sini tidak akan tinggal diam...
Ce' euis
Iya teh, tadi saya sempat bicarakan masalah ini
dengan ibu-ibu anggota jama'ah pengajian lainnya... mereka juga tidak suka
dengan aksi teror dirumah teteh...
Kebimbangan masih menjejali benak Meliana, namun
kemudian Meliana memandangi Ce' Oda dan Ce' Euis satu persatu kemudian memeluk
mereka.
MELIANA
Terima kasih ya Ce... saya tidak menyangka, warga
desa sini rupanya mau menerima keluarga saya...
Setitik air mata meleleh dipelupuk mata Meliana.
CUT TO:
9.
EXT. free - malam
Esthablis suasana kota...
Mang JAJA (O.S.)
Akang minta, sementara kalian jangan beraksi lagi...
CUT TO:
Somad dan Hasan, dua orang anggota mang Jaja
berbicara via hapenya sambil berdiri dipinggir jalan.
Somad
Akang teh kumaha? Kalo cuma sekali mah, orang kafir
itu nggak bakalan takut kang... apalagi warga desa pada ngedukung orang kafir
itu...
MANG JAJA (O.S.)
Kita lihat situasinya dulu atuh Somad ! Jangan
sampai warga desa balik memusuhi kita...
Pokoknya akang minta tahan dulu, ngarti!
SOMAD
Iya kang...!!
Somad menanggapi dengan kesal.
Note: sosok mang Jaja jangan diperlihatkan.
DISSOLVE TO:
10.
Montage
A. INT/EXT. MUSHOLA ABAH SUEB - SORE
Abah Sueb sedang berceramah dengan jamaahnya, Abah
Sueb terlihat menyampaikan dahwahnya dengan santun dan bijak.
Note: materi dakwah soal toleransi umat beragama.
CUT TO:
B. INT. RUMAH AGUSTINUS - SIANG
Agustinus dengan istrinya sedang berdoa sesuai
dengan ajaran Nasrani saat hendak menyantap hidangan makan siang.
CUT TO:
C. INT. MUSHOLA MANG JAJA - MALAM
Mang Jaja nampak dengan emosional dan ber-api-api
menyampaikan dahwahnya didepan jamaahnya.
Note: materi dakwah lebih ekstrem, memusuhi orang
kafir (pemeluk agama selain Islam).
CUT TO:
D. EXT. EMPANG/LADANG - SIANG
Agustinus sedang bekerja di empang miliknya dengan
dibantu oleh beberapa pekerjanya (bisa diganti dengan budidaya tanaman atau
lainnya). Sikap Agustinus nampak santun dimata anak buahnya.
DISSOLVE TO:
11.
EXT. jalaNAN PEDESAAN - pagi
Warga desa sedang melakukan kerja bakti membersihkan
selokan jalan dan parit dari ilalang. Diantara mereka terlihat abah sueb, kang
ucup, ujang, asep, Agustinus bahkan mang Jaja juga terlihat diantara mereka.
Keberadaan Agustinus justru tidak disukai oleh mang
Jaja, Agustinus rupanya tidak menyadari
hal itu, ia menyapa mang Jaja seperti menyapa lainnya.
AGUSTINUS
(tersenyum)
Apa kabar mang Jaja...
Mang Jaja bukannya membalas sapaan tsb namun justru
menanggapi nyinyir seraya bergerak pergi. Kang Asep buru-buru menengahi.
KANG ASEP
Sabar Pak Agustinus, jangan dimasukin dihati...
AGUSTINUS
Iya kang, saya bisa mengerti...
Kang Asep lantas kembali mengajak melanjutkan
aktivitasnya.
INTERCUT
12.
INT. rUMAH AGUSTINUS. Ruang tengah - pagi
Ce' Oda, Ce' Euis, sama ibu-ibu lainnya nampak sibuk
membuat makanan dan minuman dirumah Meliana.
CUT TO BACK
13.
EXT. jALANAN PEDESAAN - pagi/siang
Warga desa masih melakukan kerja bhakti ketika
Meliana dan ibu-ibu lainnya datang dengan membawakan makanan dan minuman.
MELIANA
Istirahat dulu bapak-bapak...
Ini kue bikinan ibu-ibu...
WarGA DESA
Alhamdulilah...akhirnya makananya datang
juga...sudah lapar euy...
Warga menyambut dengan tawa lepas, mereka lantas
cuci tangan dari air dalam timba yang dibawa Ce' Oda. setelah itu mereka
mengambil makanan/kue dari baskom yang dibawa Meliana, sedang Ce' Euis yang
membawakan teko minuman...
INSERT
Mang Jaja rupanya terusik dengan sosok Meliana yang
sedang membagikan makanan, ia memperhatikan Meliana dengan sorot kebencian.
WaRGA DESA 2
Mang Jaja, ayo istirahat dulu...
Buruan disantap atuh makanannya...
MANG JAJA
Saya tidak ikut makan kang, makanan itu haram!
WARGA DESA 2
Haram naon mang Jaja?
Dengan emosional Mang Jaja sontak mempermasalahkan
soal makanan yang dibawa Meliana.
MANG JAJA
Sudah jelas makanan itu yang bikin orang kafir,
gimana saya percaya kalo makanan itu halal?
Meliana sama Agustinus tersentak kaget menanggapi
sikap mang Jaja. Ce' Oda sa,a Ce' Euis sontak membela Meliana.
CE' ODA
(kesal)
Mang Jaja jangan asal ngomong ya... saya sama Ce'
Euis juga orang muslim mang... biarpun makanan ini bikinnya dirumah teh Meli...
tapi saya tahu mana yang halal dan tidak mang, karena kita bikinnya
gotong-royong sama ibu-ibu lainnya...
MANG JAJA
(ketus)
Itu bukan jaminan atuh Ce', apapun makanannya kalo
yang bikin orang kafir, tetep aja haram!
Meliana sama Agustinus kembali dibuat tersentak oleh
sikap mang Jaja, Euis rupanya tidak terima...ia sontak bergerak kearah mang
jaja dan mendampratnya.
CE' EUIS
(kesal)
Jangan anggap diri Mang Jaja tuh orang suci, sok
paling bener sendiri! Tunjukin kalo sikap mang Jaja tuh emang bener dimata
orang muslim?! Tunjukiiiiin!
Mang Jaja seketika bergerak pergi meninggal tempat
tsb, Ce' Euis kembali ngedumel.
CE' EUIS (CONT'D)
Sembarangan wae nuduh orang tanpa bukti!
Sementara Ce' Oda berusaha menenangkan Meliana,
warga lainnya menanggapi dengan gelengan oleh sikap mang Jaja.
Kebimbangan menjejali benak Meliana dan Agustinus.
CUT TO:
14.
EXT. serambi mushola abah sueb - sore
Abah Sueb dengan Agustinus nampak berbincang
diserambi mushola dengan ditemani oleh kang Asep.
AGUSTINUS
Kalo kehadiran saya didesa sini hanya menjadi pemicu
permusuhan antara warga dengan mang Jaja, saya sama istri saya berniat pindah
ketempat lain abah...
ABAH SUEB
Pak Agustinus jangan berpikir seperti itu...
Justru seharusnya teh, mang jaja itu yang harus belajar
banyak sama Pak Agustinus, bukan begitu kang Asep?
Kang Asep membenarkan.
KANG ASEP
Benar pak Agustinus... usaha Pak Agustinus didesa
sini setidaknya sudah membantu perekonomian warga disini, apalagi pak Agustinus
teh tidak pernah membeda-bedakan mana yang islam dan mana yang bukan...
Agustinus nampak terdiam, seolah mempertimbangkan
saran dari abah Sueb dan kang Asep.
CUT TO:
15.
EXT. serambi rumah ce' oda - sore
Ibu-ibu yang sedang mengadakan arisan dirumahnya Ce'
Oda rupanya juga berusaha membujuk Meliana agar tetap tinggal disitu.
CE' EUIS
Pokoknya teh, teh Meli jangan pindah dari sini...
soal ulah mang Jaja mah, nggak usah dipikirin atuh...
Crowed
Bener teh...dari dulu mah mang Jaja emang tukang
bikin onar...
Anggap wae mang jaja itu orang gila atuh...
Celetukan dari salah seorang Ibu-ibu tsb disambut
lainnya dengan tawa lepas, Meliana menanggapi dengan senyuman.
CUT TO
16.
EXT. free - siang/sore
Somad berbicara dengan seseorang (mang Jaja) yang
nampak berdiri dengan posisi membelakangi.
SOMAD
(emosional)
Kumaha atuh kang?
Masak warga justru ngedukung orang kafir itu? Pasti
dia sudah berhasil menghasut warga...itu yang nggak bisa dibiarkan kang? bila
perlu saya bisa kerahin temen-temen dari daerah lain buat mengusir orang kafir
itu...
Mang Jaja akhirnya berbalik hingga sosok mang Jaja
akhirnya kelihatan.
Mang JAJA
Akang minta tahan dulu...
Akang tidak mau kita ribut sama warga... itu
masalahnya...
Somad jadi gusar.
MANG JAJA (CONT'D)
Pokoknya kamu teh tunggu komando dari akang, ngarti!
Somad mengiyakan dengan nada setengah hati.
CUT TO:
17.
EXT/INT. rUMAH AGUSTINUS - siang
Agustinus terlihat pulang dengan mengendarai
motornya, wajah Agustinus nampak ceria...ia bergegas masuk kedalam rumah sambil
memanggil istrinya setelah memarkir motornya.
AGUSTINUS
Mel, Meliana...
CUT TO:
Meliana sedang menyiapkan makan siang dimeja ketika
Agustinus terlihat masuk kedalam rumah.
MELIANA
Ada apaan sih mas? Tumben pulang kelihatan senang
begitu...
AGUSTINUS
Tadi pendeta Simon nelpon...
MELIANA
Yang bener mas?
AGUSTINUS
Iya...bilangnya besok minggu mau nengokin kita
kemari, beliau juga ngajak jemaat gereja lainnya...
Meliana menyambut gembira...
MELIANA
Puji Tuhan!
AGUSTINUS
Aku tadi juga uda temuin abah Sueb sama Pak RT buat
ngabarin soal itu...
MELIANA
Mereka bilang apa mas...
AGUSTINUS
Mereka justru menyambut senang...
MELIANA
Syukurlah mas, kalo begitu nanti aku minta tolong
Ce' Oda sama Ce' Euis buat ngebantu menjamu tamu kita...
Agustinus mengiyakan, perhatiannya lantas tertuju
pada meja makan...
AGUSTINUS
Wah...ini masakan kesukaanku...
MELIANA
Ya uda, buruan cuci tangan sana...
Agustinus mengiyakan lantas bergerak kearah
belakang, sementara Meliana kembali melanjutkan kesibukannya.
DISSOLVE TO:
18.
INT/EXT. mobil mpv - pagi/siang
Mobil yang ditumpangi pendeta Simon dan jemaat
gereja nampak melintas dijalanan pedesaan.
POV. Hasan yang sengaja menunggu dipersimpangan
jalan desa rupanya melihat mobil yang ditumpangi Pendeta Simon, Hasan seketika
mengambil hp-nya dan menghubungi Somad.
Paralel cut
19.
EXT. free - pagi/siang
Somad menerima telepon dari Hasan dengan nada emosinal.
SOMAD
Beneran mereka sudah datang, San?
Hasan
Iya kang...
SOMAD
Ya sudah, sekarang juga akang sama temen-temen
lainnya berangkat kesana...
HASAN
Mang Jaja nggak dikasih tahu dulu kang?
SOMAD
Nggak perlu San, ntar ujung-ujungnya batal atuh...!
Pokoknya kamu siapin teman-teman yang ada disana...
Hasan mengiyakan.
CUT TO:
20.
EXT/INT. ruMAH AGUSTINUS - siang
Agustinus menyambut kedatangan pendeta Simon dan
teman-teman jemaat gereja dengan hangat.
INTERCUT
Ce' Oda sama Ce' Euis nampak menyudahi kesibukannya
membantu Meliana memasak dan menyiapkan hidangan makanan.
MELIANA
Terima kasih ya Ce', sudah dibantu banyak...
CE' EUIS
Ele...ele tidak perlu bilang begitu atuh teh Meli,
sudah seharusnya atuh saling ngebantu, apalagi kita tetanggaan...
CE' ODA
Nanti kalo saya punya hajatan pastinya juga gantian
minta tolong sama teh Meli...
MELIANA
Pasti saya akan bantu Ce...
CE' EUIS
Ya sudah, kalo begitu saya pamit dulu nyak...teh
Meli tentunya mau kangen-kangenan sama temen-temennya jemaat gereja...
Meli tersenyum menanggapi, Ce' Oda lantas ikut
berpamitan, keduanya lantas bergerak pergi lewat pintu samping/belakang.
Agustinus bergerak masuk kedalam rumah...
AGUSTINUS
Mel, Pak Pendeta sama temen-temen sudah datang
tuh...
MELIANA
Iya mas..
AGUSTINUS
Mana Ce' Oda sama Ce' Euis?
MELIANA
Mereka uda pamitan mas, katanya nggak mau ngeganggu
acara kita...
AGUSTINUS
Syukur punya tetangga baik seperti mereka ya Mel...
MELIANA
Iya...
Oh ya mas, boleh nggak saya minta Pendeta Simon
mendo'akan buat calon anak kita? Lagian sudah lama aku tidak mendengar suara
pendeta simon kalo lagi kutbah...
Agustinus tersenyum mengiyakan.
DISSOLVE TO:
21.
INT. rUMAH AGUSTINUS. Ruang TENGAH - siang
Pendeta Simon memimpin do'a sambil membuka kitab
Injil diikuti oleh jemaatnya, termasuk Agustinus dan Meliana.
INTERCUT
22.
EXT. jALANAN PEDESAAN - siang
Beberapa sepeda motor yang dikendarai oleh Somad cs
nampak melintasi jalanan pedesaan, mereka nampak berboncengan dengan mengenakan
jubah putih dan menutupi mulutnya dengan surban.
CUT TO BACK
23.
INT. rUMAH AGUSTINUS. RUANG TENGAH - siang
Pendeka Simon dengan jemaatnya nampak menyanyikan
sebuah lagu pujian sementara pendeta Simon masih membacakan do'a.
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara pecahan kaca
dari arah depan, hal itu membuat teman-teman Agustinus histeris ketakutan.
CUT TO:
24.
EXT/INT. ruMAH AGUSTINUS - siang
Somad dan teman-temannya berdiri didepan pintu pagar
sambil melemparkan baru kearah rumah Agustinus sambil berteriak-teriak
mengusir.
CrOWED
(teriak)
Agustinuuuus...keluar kamu!
Pergi dari siniii!
Pergiiii...
INSERT
Para jemaat yang ada didalam rumah nampak ketakutan
terlebih terdengar teriakan bernada ancaman dari luar rumah.
CUT TO:
25.
EXT. rUMAH AGUSTINUS - siang
Somad dengan teman-temannya masih melakukan aksi
pengusiran dengan berteriak-teriak didepan rumah Agustinus, hal itu mengundang
tetangga lain pada berhamburan keluar rumah.
Kang Asep, Ucup, Ujang dan warga lainnya sontak
bergerak mendatangi Somad sambil membawa potongan kayu dsb.
KANG ASEP
(teriak)
Hey...hey...kalian ini siapa?
Berani-beraninya kalian bikin keributan didesa
sini...
CROWED
Habisin saja kang Asep!
Serbuuu...
Spontan warga yang berdiri dibelakang kang Asep
menyerbu kelompoknya Somad, aksi perkelahian tidak terhindari...
Somad dengan kelompoknya yang jumlahnya tidak
seberapa dengan mudahnya jadi sasaran amukan warga desa...
DISSOLVE TO:
26.
EXT. kantor desa - siang
Dengan wajah babak belur, Somad dan anggotanya duduk
disudut joglo kantor desa...sementara warga desa nampak berdiri mengitari
mereka.
Selang kemudian dari arah kerumunan warga terlihat
mang Jaja yang baru datang. Begitu melihat keadaan Somad dan teman-temannya,
Mang Jaja sontak menanggapi dengan gelengan...
ABAH SUEB
Apa keadaan seperti ini yang mang Jaja inginkan?
Kumaha atuh kalo kemarahan warga tidak bisa
dikendalikan? keadaan yang lebih buruk bisa menimpa anggota jemaah mang
Jaja...itu yang saya kawatirkan mang...
Mang Jaja diam membisu sembari tertunduk...
ABAH SUEB (CONT'D)
Ingat mang, memendam sikap kebencian hanya akan
melahirkan pertikaian... bukankah islam mengajarkan kita untuk kedamaian?
Mang Jaja lagi-lagi hanya membisu...
Pak Kades terlihat baru datang dengan kapolsek dan
kodim...
Pak kades
Mari bapak-bapak, kita bicarakan masalah ini
didalam...
Abah Sueb mengiyakan, pak Kades dan kapolsek serta
kodim bergerak masuk kearah kantor desa.
Abah Sueb lantas menghampiri mang jaja kemudian
mengajaknya menyusul Pak Kades.
ABAH SUEB
Ayo mang Jaja...
MANG JAJA
Terima kasih abah...
Keduanya lantas bergerak menyusul Pak kades, semua
perhatian tertuju kearah kepergian abah Sueb dan Mang Jaja tidak terkecuali
Somad.
DISSOLVE TO:
27.
INT. kantor DESA - siang
Montage. Pembicaraan antara Pak Kades, Kapolsek,
kodim, Mang Jaja, Abah Sueb dan petugas dari Ditjen HAM.
Ditjen HAM menjelaskan tentang arti pentingnya
toleransi antar umat beragama yang diatur dalam Undang-Undang...
DISSOLVE TO:
28.
EXT. area empang/ladang - siang
Agustinus sedang bekerja dengan beberapa warga desa
yang kerja ditempatnya ketika Mang Jaja menyapanya dari kejauhan.
MANG JAJA
Assalammualaikum Pak Agustinus...
Agustinus sempat kaget oleh sapaan itu, tidak
terkecuali anak buahnya. Namun kemudian Agustinus membalas sapaan tsb dengan
hangat.
AGUSTINUS
Waalaikumsalam mang Jaja...
Tumben kemari mang... ada yang bisa saya bantu?
Agustinus sontak menyambut kedatangan mang Jaja
dengan hangat...
MANG JAJA
Saya kemari cuma mau minta maaf soal kejadian
kemarin, juga sikap saya yang selama ini memusuhi keluarga pak Agustinus...
AGUSTINUS
(tersenyum)
Soal itu lupakan saja mang, saya sama istri saya
sudah memaafkannya dari kemarin...lagian kita kan sesama umat manusia, jadi
buat apa memendam dendam... hanya akan menjauhkan kita rasa persaudaraan
mang...
MANG JAJA
Terima kasih Pak Agustinus...
Keduanya saling berangkulan, para pekerja di empang
menanggapi dengan senang.
Dari kejauhan Meliana yang baru datang melihat
dengan senang.
CUT TO
Stop motion
Tidak ada komentar:
Posting Komentar